-->
loading...

Keong Saja Punya Rumah

Keong Saja Punya Rumah.


instarumah.com - WOW !!!!!! Keong ??? ya begitulah ilustrasi yang dapat digambarkan untuk generasi sekarang yang belum memiliki rumah, padahal mereka mampu untuk membelinya. Generasi yang lebih memilih membeli kebutuhan sekunder daripada memeneuhi kebutuhan primernya. 

Bagaimana tidak saat membeli atau memiliki sebuah motor sport atau motor gede dan smartphone yang canggih lebih diutamakan. Mengalahkan untuk memebeli atau memiliki sebuah rumah tempat tinggal sendiri.

"keong saja punya rumah"

Fenomena yang terjadi baik didaerah atau perkotaan yang mana generasi sekarang dengan mengatasnamakan mengikuti perkembangan jaman berbondong-bondong melupakan kebutuhan pokoknya. 

Untuk generasi milenial yang sekarang disematkan pada pundak mereka sebagai identitas sebuah masa geneerasi. Jika ditelaah secara dalam sebenarnya gelar milenial tersebut terasa sangat prestisius. Yang mana sebuah generasi yang tumbuh dan berkembang dalam jaman yang mengusung peradaban tinggi pada bidang teknologi. 

Lantas apakah dengan peradaban tinggi pada bidang teknologi juga akan membawa peradaban yang ilmiah sebagai manusia akan mengikutinya. Harusnya seperti itu, peradaban tinggi dalam bidang teknologi harusnya diimbangi dengan peradaban pribadi yang sama. Sebagai bangsa yang beradab dengan nilai-nilai logika yang tinggi pula. 

Salah satu nilai logika yang tinggi itu ditandai dengan sikap kemandirian sebagai seorang pribadi dalam memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupanya. Sering disinggung bahwa kebutuhan pokok tersebut adalah sandang, pangan dan papan. Kita akan membicarakan pada kebutuhan papan, sebagai langkah utama dalam mengarungi kehidupan kususnya pada zaman seperti saat ini.


Kita bisa melihat di Negara-negara yang modern mereka semua tidak memiliki masalah dalam tempat tinggal untuk masyarakatnya. Sehingga masyarakatnya dengan mudah mendapatkan kebutuhan pokok lainya, dengan kata lain masyarakat yang telah memenuhi kebutuhan papanya maka mereka akan dengan mudah memnuhi kebutuhan pokok lainya dan kebutuhan sekunder mereka. 

Memang permasalahan tentang tenpat tinggal didindonesia sangat kompleks untuk diselesaikan dalam waktu yang cepat. Jika tidak diikuti dengan kesdaran yang tinggi dari masyarakatnya. Dengan memindsett pada dirinya untuk sadar mengutamakan kebutuhan pokok kususnya pada kebutuhan tempat tinggal. Sudah banyak program pemerintah yang digulirkan seperti program satu juta rumah, program nag Muka 1% dan program-program lainya yang bertujuan untuk memberikan kemudahan pemilikan rumah dengan biaya terjangkau. Namun sekali lagi tanpa didorong oleh keinginan kuat masyarakatnya maka semua program tersebut tidak akan tersserap oleh masyarakat kita.

Banyak faktor yang mendasari rendahnya tingkat kesadaraan kepemilikan rumah tinggal, diantaranya adalah lebih mengutamakan gengsi memiliki barang yang modern meski itu bukan kebutuhan pokok. 

Maraknya pengembang yang hanya mencari keuntungan pribadi sehingga banyak masyarakat yang harusnya bisa memiliki rumah menjadi tidak. Ditengah persaingan dari banyak pengembang perumahaan memang tidak semua hanya mengejar keuntungan semata, masih banyak pengembang yang sangat onsen dalam membantu pengadaan perumahan rakyat. 

Disisi lain faktor harga lahan atau lokasi untuk mengembangkan perumahan yang dipatok dengan harga tinggi  oleh para pemilik lahanya. Hal itulah yang juga mempengaruhi pengembang sulit untuk membuat sebuah konsep perumahan rakyat yang memiliki harga terjangkau. 

Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan pengadaan perumahan rakyat, secara berkesinambungan dari pemerintah satu ke pemerintah berikutnya. Seperti saat ini bahwa pemerintah lewat lembaga kementerian perumahan rakyat bekerjasama dengan BANK TABUNGAN NEGARA (BTN) berkomitment untuk mewujudkan target akad kredit serentak rumah subsidi sejumlah lima ribu (5000) unit atau customer terakad kredit, untuk benar-benar memiliki rumah pada awal tahun 2020 mendatang.




Maka dengan banyaknya program dan pelaksanaan pengadaaan rumah subsidi dan comersial, semua dikembalikan pada masyarakat apakah benar-benar akan mewujudkan impianya memiliki sebuah rumah tinggal untuk masa depan keluarga kecil bahagianya. 

Kita terlalu konsen dan asyik sehingga kita terjebak pada pemenuhan kebutuhan sekunder. Contohnya dalam satu individu atau keluarga memiliki kendaraan roda dua, roda empat, dan smart phone lebih dari satu unit. Berapa biaya per tahun, per bulan, kemudian didetail menjadi perhari yang harus dikeluarkan. Apakah sebanding atau bahkan lebih besar dari pembiayaan  membeli sebuah rumah subsidi atau rumah sangat sederhana.

Layaknya sangat perlu dipertimbangkan dengan seksama, baik pada tingkat masyarakat yang belum berkeluarga ataupun yang masih sendiri tentunya yang memilki kemampuan secara finansial. Pembiayaan pada benda-benda sekunder seperti smart phone tanpa kita sadari bisa sampai beberapa ratus ribu dalam sebulan. 

Kendaraan roda dua juga memiliki pembiayaan yang serupa dalam per hari memerlukan bahan bakar, dalam perbulan ada pembiayaan service, dalam masa tahun sudah pasti harus dibayar pajaknya. Tidak jauh berbeda dengan kendaraan roda empat, yang sama dengan kendaraan roda dua yang nilainya justru lebih besar. 

Adanya resiko kesehatan kita dalam setiap masanya, ada resiko pemenuhan kebutuhan pokok pangan serta pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anaknya untuk yang sudah berkeluarga. Mari sama-sama kita renungkan bersama, tidak bermaksud menggurui atau menjusment. Hanya sebagi pengingat kita bersama seyogyanya kita lebih detail dan focus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas kita. Semua untuk masa depan kita dan orang-orang disekeliling kita yang menjadi tanggung jawab dalam hidup kita.

Ada istilah keong saja punya rumah, masak kita tidak !? Iya menggelitik memang jika  bicara istilah kalimat tersebut. Kenapa demikian ? karena keong sebenarnya menempati cangkang yang bukan terbawa saat keong tersebut tumbuh dari kecil, namun keog menempati rumah atau cangkang saat sudah dewasa dan menyesuaikan ukuran tubuhnya.

Artinya keong mampu memilah dan punya kelebihan sebagai pemilih mana cangkang yang tepat dan sesuai selera keong tersebut. Keren ka ?! Hahahahahaha….. maka kita sebagai makhluk yang dilahirkan sempurna memiliki potensi yang beribu kali lipat bisa mengalahkan keong dalam memilih sebuah rumah…. Hahahahahahahahahahahaha…. 

Tentunya tidak pantas dan sepatutnya jika membandinghkan manusia dengan keong, tentu maksudnya tidak demikian. Ini hanya sebuah ilustrasi dimana keong memiliki rumah untuk berlindung dari segala mara bahaya dan untuk kenyamanan bertumbuh. Maka kita sebagai manusia juga harus memiliki sebuah rumah untuk berlindung dan bertumbuh secara manusiawi. Tidak ada slahnya jika kita merenung kembali sejenak unutk mencoba menelaah istilah yang dimaksud tersebut.

Ada banyak alternatif rumah tinggal yang bisa kita dapatkan. Tentunya yang paling familiar dilingkungan perkotaan adalah kredit pemilikan rumah (KPR). Jika KPR  bukan merupakan opsi diantara kita karena berbagaii macam alassan, ada pilihan lain atau cara untuk memiliki sebuah rumah. 

Mungkin dengan membekli lahan dulu baik secara  kontan lunas, atau secara kredit. Bisa dengan membeli lahan kavling atau lahan non kavling, sangat banyak jenis lahan dengan lokasi yang sesuai dengan selera kita. Pilihan lain adalah setelah menyiapkan lahanya bisa mulai mencicil membeli material secara bertahap. 

Bisa disiapkan material yang sifatnya tidak cepat rusak saat dipakai nanti. Pilihan lain yang bisa diambil adalah dengan over kredit atau take over rumah kredit dari pemilik sebelumnya. Dari banyak pilihan yang tersedia maka kita bisa menempatkan diri berada diposisi mana kita akan memiliki sebuah rumah tempat tinggal.

Segala pertimbangan yang digunakan adalah untuk mengukur kesiapan dan niat kita untuk memiliki sebuah rumah. Dalam artian lain supaya kita bisa berpikir rasional dan tidak takut membeli rumah baru atau rumah second. Dalam dunia property sebenarnya tidak mengenal rumah second, karena rumah tinggal sealalu mempunyai masa lalu dari lahan yang digunakan. Rumah selalu dapat diperbarui bangunanya. 

Saat kita ingin designe yang baru maka kita tinggal merubah dan membangunya seuai dengan keinginan kita. Lalu bagaiaman rumah yang sangat baik dan layak kita miliki? tentunya rumah tersebut sesuai dengan kebutuhan penopan utama kehidupan kita sehari-hari. Utamakan jika kita mmampu pada kkeuangan kita, pilihlah rumah yang mempunyai lokasi yang strategis.

Seperti terletak dijalan utama pada lokasinya, memiliki possisi yang strategis pada tempatnya. Contoh memilih rumah yang letaknya dekat dengan perempatan, yang dekat dengan fasos, yang berada di jalan masuk utama, yang berada tidak jauh dari gerbang utama lokasi jika berada di perumahaan. Bisa juga memilih lokasi rumah yang dikonsep dengan tempat usaha. 

Kenapa harrus memilih tempat yang strategis? karena tempat strategis memiliki nilai peningkatan investasi yang baik dengan prosentase yang besar setiap tahunya.



Jika keong saja memiliki rumah dan bahkan mampu memilih rumah mana yang sesuai dengan kebutuhanya. Maka sebagai generasi yang bertumbuh Era milenial seperti sekarang ini idealnya memiliki rumah pribadi sebagai bentuk kesiapan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

Pilihlah rumah tinggal sesuai dengan kemampuan penghasilan kita, buat apa mewah namun memaksakan diri, sederhana lebih bijak dalam segala bentuk situasi pencapaian hidup kita.
LihatTutupKomentar

Iklan Bawah Artikel

loading...